Anjing dan Kafir

Antara Anjing & Kafir

Abu Ubaidah As Sidawi

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin:

“Termasuk hikmah Allah bahwa yang jelek pasangannya adalah jelek juga.
Oleh karenanya, orang-orang kafir dari Yahudi, Nashoro, komunis dan sebagainya di Negara barat atau timur, hampir semuanya memilki anjing.
Jika dia membeli daging, maka dia makan yang jelek, adapun daging yang bagus dia berikan kepada anjingnya.
Setiap hari, mereka memandikan anjingnya dengan sabun dan alat-alat pembersih lainnya padahal sekalipun dia membersihkannya dengan seluruh air laut maka anjing tetaplah najis”. (Syarh Riyadhus Shalihin 6/430, cet Madarul Wathon, KSA).

Dalam syariat kita, bila anjing menjilat bejana, maka najis hukumnya sehingga harus dibersihkan sebagaimana disebutkan dalam hadits:

إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيُرِقْهُ ثُمَّ لِيَغْسِلْهُ سَبْعَ مِرَارٍ

Apabila seekor anjing minum dari bejana salah seorang kalian, maka buanglah airnya lalu cucilah tujuh kali. (HR Bukhari no 418, Muslim no. 422).

Hadits ini mencakup seluruh jenis anjing, sebab ( الْ ) pada lafadz kalb (anjing) dalam hadits di atas mencakup umum, tidak boleh dikecualikan tanpa adanya dalil. (Lihat ath-Thuhur, karya Abu Ubaid hlm. 270 dan ‘al-Uddah fii Syarhil ‘Umdah, karya Ibnul ‘Athor 1/ 77).

Dan hadits ini juga menunjukkan najisnya anjing atau setidaknya adalah air liurnya bahkan ulama memandang levelnya adalah najis yang berat (mughallazhah), karena untuk mensucikannya harus dengan air tujuh kali dan salah satunya dengan menggunakan tanah.

Hadits ini juga merupakan mukjizat ilmiyyah karena terbukti dalam riset kedokteran sekarang ditemukan melalui mikroskop bahwa mulut anjing mengandung 50 cacing pita yang menularkannya kepada manusai dan menjadi sebab manusia menderita penyakit yang berbahaya, bisa sampai mematikan. (Lihat 100 Mu’jizat Dhoharot fii Hadzal Ashr hlm. 42 oleh Yusuf Ali al-Jasir, Ta’liq Syaikh Ahmad Syakir terhadap Ihkamul Ahkam 1/77 karya Ibnu Daqiq al-‘Ied, Taudhihul Ahkam 1/137 oleh Abdullah al-Bassam).

Mengenai masalah yang viral di medsos sekarang maka saya berpendapat:

1. Mengingat bahwa anjing adalah hewan najis, maka hendaknya bagi kita menjaga rumah Allah yang mulia dari benda-benda najis, sehingga jika ada anjing yang masuk ke rumah Allah hendaknya kita cegah sebagai bentuk penghormatan kepada masjid dan menjaga kesuciannya.

2. Mengingat bahwa Islam adalah rohmatan lil alamin dan anjuran hikmah dan lembut dalam dakwah, hendaknya kita tidak terprovokasi dengan kejadian tersebut, tapi mari kita tunjukkan akhlak yang baik, karena akhlak baik merupakan pintu besar dalam dakwah, apalagi masalah seperti ini jika disikapi dengan emosi maka bisa menjadi bola liar dan bom waktu untuk mengadu domba antara anak bangsa. Mari kita belajar sikap lemah lembut Rasulullah kepada orang arab badui yang kencing di masjid.
Mari kita renungkan hadits berikut ini:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ فِى الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ فَقَامَ يَبُولُ فِى الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَهْ مَهْ. قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تُزْرِمُوهُ دَعُوهُ ». فَتَرَكُوهُ حَتَّى بَالَ. ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ « إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لاَ تَصْلُحُ لِشَىْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلاَ الْقَذَرِ إِنَّمَا هِىَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ ». أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم .قَالَ فَأَمَرَ رَجُلاً مِنَ الْقَوْمِ فَجَاءَ بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَشَنَّهُ عَلَيْهِ.

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Ketika kami sedang di masjid bersama Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang Arab badui lalu berdiri untuk kencing di masjid. Para sahabat Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam menghardiknya, tetapi Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Janganlah kalian memutusnya, biarkanlah dia selesai kencing dulu.’

Maka mereka membiarkan orang tersebut kencing hingga selesai. Setelah itu Rosu

lulloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatinya,

‘Sesungguhnya masjid ini tidak boleh digunakan untuk kotoran dan kencing, masjid adalah tempat untuk dzikir, sholat, dan membaca al-Qur’an.’ Atau seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah seseorang untuk mengambil satu ember air dan menyiramnya.’ ” (HR. al-Bukhori: 219 dan Muslim: 284.

Di antara faedah penting hadits ini adalah tidak boleh mengingkari kemungkaran jika malah menimbulkan kerusakan yang lebih besar dan hendaknya lemah lembut menghadapi orang jahil. (Syarh Muslim, An Nawawi 1/191. Lihat risalah Hadits Baulil A’robi Waqofat wa Ta’ammulat kar. Dr. Falih bin Muhammad ash-Shughoir).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *