Rapatkan Shaf Sholat mu

Al-Bukhari rahimahullah meletakkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dalam bab :

إِلْزَاقِ الْمَنْكِبِ بِالْمَنْكِبِ وَالْقَدَمِ بِالْقَدَمِ فِي الصَّفِّ

“Menempelkan pundak dengan pundak, kaki dengan kaki dalam shaff”
[Shahih Al-Bukhari, 1/238].

Bab ini menunjukkan dhahir fiqh beliau rahimahullah pada perkara merapatkan shaff dalam shalat berjama’ah, karena sesuai dengan metode pemberian judul bab yang lain dalam kitab Jaami’ush-Shahih-nya. Bukan makna majazi…!!

Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:

قوله : ( باب إلزاق المنكب بالمنكب والقدم بالقدم في الصف ) المراد بذلك المبالغة في تعديل الصف وسد خلله

“Dan perkataan Al-Bukhari : Bab Menempelkan Pundak dengan Pundak dan Kaki dengan Kaki dalam Shaff; maksudnya adalah berlebih-lebihan dalam meluruskan shaff dan menutup celah”
[Fathul-Bari, 2/211].

Sebagian orang ada yang memahami perkataan Al-Hafidh ‘al-mubalaghah’ adalah majazi. Atau secara ringkas (menurut mereka) dikatakan : perkataan Al-Bukhari tersebut merupakan ungkapan majaz dalam meluruskan shaff dan menutup celah. Tidak benar-benar menempel.
Justru ini tidak benar…!! Karena menyalahi makna dhahirnya…!!

Yang dimaksudkan Al-Haafidh dalam mubalaghah di sini adalah penyangatan dan kesungguhan. Seakan-akan beliau rahimahullah berkata : Disyari’atkan menempelkan pundak dengan pundak dan telapak kaki dengan telapak kaki, dalam rangka mubalaghah (berlebihan, bersungguh-sungguh) dalam pencapaian kelurusan shaff dan menutup celah
[lihat : At-Tatimmaat li-ba’dli Masaailish-Shalaah oleh Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Umar Bazmuul, hal. 42].

Yang menguatkan makna ini, Al-Hafidh rahimahullah saat menjelaskan hadits Anas ‘aqiimush-shufuufakum wa tarashshuu’ berkata:

قوله وتراصوا بتشديد الصاد المهملة أي تلاصقوا بغير خلل

“Sabda beliau shallallahu ”alaihi wa sallam : ‘tarashshuu’ (rapatkanlah), maknanya saling menempelkan tanpa ada celah”
[Fathul-Bari, 2/208].

Nampak madzhab beliau rahimahullah dalam hal ini adalah rapat dengan saling menempelkan hingga tidak ada celah. Sangat selaras.
Setelah menyebutkan hadits An-Nu’man bin Basyir dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Ibnu Baththal rahimahullah berkata:

هذه الأحاديث تفسر قوله عليه السلام: « تراصُّوا فى الصف » ، وهذه هيئة التراص

“Hadits-hadits ini menasfirkan sabda beliau shallallahu ”alaihi wa sallam : ‘Rapatkanlah shaff’, dan inilah bentuk merapatkan tersebut”
[Syarh Shahih Al-Bukhariy oleh Ibnu Baththal, 2/347-348].

Bukankah ketika Anas menyebutkan pengingkarannya : ‘Dan seandainya engkau melakukan yang demikian itu pada hari ini, sungguh engkau akan melihat salah satu dari mereka seperti bighal liar (yang melarikan diri)’; yang lebih pas dimaknai sesuai dengan dhahirnya…??.
Dan inilah fakta yang banyak terjadi sekarang…!!
Banyak orang enggan dan bahkan lari hanya sekedar untuk menempelkan bahu dan telapak kakinya…!! Silakan direnungkan…!!

Selain alasan makna yang dimaksud majazi (dan ini tidak valid), ada yang mengatakan bahwa sahabat yang menempelkan pundak dan telapak kakinya hanya satu orang saja, sedangkan yang lain tidak.

Perbuatan seorang sahabat tidak menjadi dalil…!!

Dari mana disimpulkan sahabat yang lain tidak menempelkan pundak dan telapak kakinya…??

Tidak ada keterangan sama sekali dalam riwayat. Jika dikatakan ‘ahadunaa’ – dalam hadits Anas – bukan berarti yang lain tidak melakukannya. Misalnya saja hadits:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا أَمَرَنَا بِالصَّدَقَةِ انْطَلَقَ أَحَدُنَا إِلَى السُّوقِ فَيُحَامِلُ فَيُصِيبُ الْمُدَّ وَإِنَّ لِبَعْضِهِمْ الْيَوْمَ لَمِائَةَ أَلْفٍ

Dari Abu Mas’uud Al-Anshaariy radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Dulu apabila Rasulullah ﷺ memerintahkan kami bershadaqah, maka salah seorang diantara kami akan berangkat menuju pasar lalu dia bekerja dengan sungguh-sungguh hingga mendapatkan rezeki satu mud (untuk dishadaqahkan). Adapun hari ini sebagian dari mereka bisa mendapatkan seratus ribu kalinya”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 2273].

Hadits ini tidak menunjukkan hanya satu orang saja diantara banyak sahabat yang hadir yang mencari rizki dan bershadaqah darinya.

Hadits ini hanya menunjukkan sifat/sikap para shahabat jika ketika mendengar perintah dari Nabi. Tentu aneh jika dipahami hanya satu orang saja dari banyak sahabat yang mendengar melaksanakan perintah beliau ﷺ.

عَنْ زَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ: إِنْ كُنَّا لَنَتَكَلَّمُ فِي الصَّلَاةِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ ﷺ يُكَلِّمُ أَحَدُنَا صَاحِبَهُ بِحَاجَتِهِ حَتَّى نَزَلَتْ: حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ، فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ ”

Dari Zaid bin Arqam, ia berkata : “Dahulu kami di zaman Nabi shallallahu ”alaihi wa sallam saling berbicara ketika shalat. Salah seorang diantara kami mengajak temannya berbicara untuk satu keperluan, hingga kemudian turun ayat : ‘Peliharalah shalat-shalat-(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa’ (QS. Al-Baqarah : 283). Setelah itu, kami diperintahkan untuk diam (ketika shalat)”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1199].

Hadits di atas menjelaskan bahwa fenomena berbicara ketika shalat sebelum turun larangan adalah jamak, umum dilakukan para shahabat. Ketika dikatakan oleh Zaid : ‘salah seorang diantara kami mengajak temannya berbicara untuk satu keperluan’, bukan artinya hanya satu orang saja yang berbicara dengan temannya.
Dan lain-lain.

Seandainya pun benar seperti yang mereka katakan bahwa hanya satu orang shahabat saja yang menempelkan pundak dan bahu mereka ketika meluruskan dan merapatkan shaff; bukankah menjadi janggal sementara mereka sendiri menguatkan makna perkataan Anas tersebut hanyalah majazi, bukan sebenarnya…..???

Perbuatan meluruskan dan merapatkan shaff tanpa menempelkan pun menjadi bukan hujjah karena hanya dilakukan oleh seorang shahabat saja…!!

Terakhir, sebagian orang mengatakan bahwa tidak mungkin untuk menempelkan lutut dengan lutut seperti dalam riwayat An-Nu’maan bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, sehingga makna yang terambil bukan pada dhahirnya, tapi majazi.

Hadits An-Nu’man bin Basyir tersebut adalah:

عَنْ النُّعْمَان بْن بَشِير، يَقُولُ: أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ، فَقَالَ: ” أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثَلَاثًا، وَاللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ “، قَالَ: فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يَلْزَقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ

Dari An-Nu’maan bin Basyiir, ia berkata : “Rasulullah shallallahu ”alaihi wa sallam pernah menghadap ke arah jama’ah shalat dan bersabda : ‘Tegakkanlah (luruskanlah) shaff-shaff kalian’ – sebanyak tiga kali – . Demi Allah, hendaklah kalian benar-benar menegakkan shaff-shaff kalian; atau jika tidak, maka Allah akan membuat hati-hati kalian saling berselisih’. An-Nu’maan berkata : “Aku melihat ada seorang laki-laki menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya”
[Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 662; shahih].

Pada dasarnya hujjah ‘aqliyyah ini mudah dijawab.

Pertamab:
Menempelkan lutut dengan lutut bukannya tidak mungkin; akan tetapi bisa meski tidak setiap orang dapat melakukannya (tergantung bentuk kaki dan ukuran badan).

Saya jawab demikian karena saya adalah pelakunya, sering melakukannya, walau tidak selalu…!!

Kedua:
perkataan An-Nu’man ini menunjukkan bahwa merapatkan shalat dilakukan pada keseluruhan shalat. Menempelkan lutut dengan lutut mudah dilakukan ketika sujud dan duduk, sehingga dengannya seseorang berusaha tidak membiarkan adanya celah antara dirinya dengan saudaranya ketika shalat berjama’ah
[At-Tatimmaat li-ba’dli Masaailish-Shalaah, hal. 44].

Sebagai penutup,…. menempelkan bahu dengan bahu, telapak kaki (mata kaki) dengan telapak kaki, atau bahkan lutut dengan lutut (sebagaimana keterangan di atas) mudah dilakukan bagi yang terbiasa, insyaallah.

Justru saya tidak habis pikir ketika kita datang masuk ke dalam shaff dengan menempelkan bahu dan telapak kaki (mata kaki) kita dengan bahu dan telapak kaki (mata kaki) saudara kita muslim (tanpa ekstrim mepet dengan tubuhnya), ia malah menjauh. Saya pribadi malah pernah dihardik. Opo salahku…..??! .

Kalau memang saudara kita menjauh atau bahkan ‘lari’, kita tak perlu kejar-kejaran karena kita bukan mau lari atletik. Urusan dia lah mau lari atau sprint….

Wassalam…

Ini saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya, wallaahu a’lam bish-shawwaab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *