Ulil Amri Menurut Aswaja

Siapakah Ulil Amri itu menurut Ahlus Sunnah dengan berdasarkan hadits hadits Rasulullah?
——–

Sebagian orang ada yang memahami, bahwa yang dimaksud Ulil Amri itu hanyalah orang yang memimpin dengan berdasarkan kitabullah saja.

Itulah yang dianggap “syarat sah” seseorang disebut sebagai ulil Amri bagi mereka. Jika “syarat sah” itu tidak dipenuhi, maka otomatis status ulil Amri itu tidak sah atau batal dengan sendirinya.

Sehingga tidak perlu untuk didengar dan ditaati walaupun dalam hal yang ma’ruf. Kan itu bukan ulil Amri secara syar’i.

Mereka mendasarkan pemahaman mereka berdasarkan hadits Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam,

إِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ مُجَدَّعٌ حَسِبْتُهَا قَالَتْ أَسْوَدُ يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا

“Jika kalian dipimpin seorang budak cacat (bengkok hidungnya) -sahabat perowi berkata : aku mengira Rasulullah juga berkata : budak hitam-, yang mana dia memimpin dengan berdasarkan kitabullah.

Maka dengar dan taatilah dia.” [Hr. Muslim]

Adapun dalam riwayat imam At Tirmidzi disebutkan dengan lafadz,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ مُجَدَّعٌ فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا مَا أَقَامَ لَكُمْ كِتَابَ اللَّهِ

“Wahai manusia sekalian, bertakwalah kalian kepada Allah. Dan jika kalian diperintah oleh seorang budak cacat (bengkok hidungnya) habasyiyun, maka dengar dan taatilah dia sepanjang dia menegakkan kitabullah dalam memimpin kalian”

Perkataan Rasulullah ( يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ) dalam shohih Muslim dan perkataan Rasulullah (مَا أَقَامَ لَكُمْ كِتَابَ اللَّهِ) dalam Sunan At Tirmidzi itulah yang oleh sebagian orang dianggap sebagai “Syarat sah” seseorang disebut sebagai ulil Amri.

Sehingga jika “syarat sah” itu tidak dipenuhi, maka secara otomatis status ulil Amri itu tidak sah atau batal dengan sendirinya.

Sama seperti sholat yang tidak sah jika kita tidak suci, berwudhu dulu. Atau sholat yang batal jika kita buang angin atau kencing ketika kita sholat.

Sama seperti Khowarij zaman Kholifah Ali bin Abi Tholib, yang mana ketika mereka menganggap Ali bin Abi Tholib menyimpang dan tidak berhukum dengan hukum Allah yang ada di kitabullah.

Seperti ketika mau menang melawan Muawiyah, malah setuju untuk bertahkim kompromi antar manusia utusan perwakilan. Padahal perang jihad itukan urusan Allah, jadi harus mutlaq menggunakan aturan aturan jihad yang ada di kitabullah, dan tidak boleh ada kompromi berhukum antar manusia.

Atau ketika berhasil mengalahkan pasukan Aisyah, Ali bin Abi Tholib tidak mengambilnya sebagai tawanan, ghonimah (rampasan perang), dan budak. Yang mana ini tidak sesuai dengan aturan syariat perang yang ada di dalam Kitabullah dan praktek Sunnah perang Rasulullah.

Atau ketika Ali bin Abi Tholib menolak gelar amirul Mukminin dari dirinya. Lha kalau bukan amirul Mukminin, apa mau jadi amirul kafirin? Padahal pemerintahan Islam itu tegak di atas keimanan kepada Allah dan menjalankan syariat syariat nya. Kalau pucuk pemimpin tertinggi nya menolak gelar resmi amirul mukminin, maka dia tidak menginginkan keimanan dan syariat Islam ditegakkan di dalam pemerintahan nya.

Atas hal yang dianggap “tidak memerintah berdasarkan kitabullah”, yang mana ini terjadi di tengah tengah pemerintahan Kholifah Ali bin Abi Tholib. Maka ke ulil Amri an Ali bin Abi Tholib dianggap batal dan tidak sah di tengah jalan, sama seperti orang yang sholat lalu kentut.

Nah, jika Ali bin Abi Tholib saja dibegitukan oleh para Khowarij. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Maka bagaimana lagi dengan para pemimpin yang tidak memiliki komitmen untuk menegakkan seluruh aturan Islam sejak awal dia memerintah?

Pemimpin yang terhalang oleh aturan konstitusi dan kompromistis dengan aturan hukum kafir, sehingga tidak bisa menerapkan hukum Islam secara totalitas dan tidak bisa menjadikan kitabullah dan syariat sebagai pondasi aturan bernegara sejak dari awal?

Maka ya jelas ini lebih parah daripada pemerintahan Kholifah Ali bin Abi Tholib. Langsung “auto tidak sah” dan sama saja orang yang sholat tapi tidak bersuci, tidak wudhu dulu.

Andaikata wudhu pun, maka itu dianggap seperti berwudhu dengan air najis!!!

Take it or leave it. Ulil Amri atau bukan ulil Amri. With us or against us. Hard core dan kokoh banget kan? 🙂

***
Sekarang pertanyaannya, benarkah cara kita memahami hadits “memimpin dengan berdasarkan kitabullah” itu?

Secara ringkas jawabannya, “memimpin dengan berdasarkan kitabullah” dengan secara sempurna dan menyeluruh itu sebenarnya adalah “SYARAT KESEMPURNAAN” dan “KEWAJIBAN” dari seorang ulil Amri saja. Bukan “SYARAT SAH” minimum seseorang baru bisa disebut ulil Amri.

Semakin sempurna seseorang menegakkan kitabullah, makin sempurna dia melakukan kewajibannya, maka akan semakin sempurna pula kepemimpinannya. Adapun semakin kurang sempurna dia memimpin dengan berdasarkan kitabullah, maka akan semakin berkurang kesempurnaan kepemimpinannya.

Akan tetapi tetap secara sah, dia adalah ulil Amri resmi yang harus didengar dan ditaati dalam hal yang ma’ruf walaupun dia memiliki banyak sekali kekurangan dan tidak melaksanakan seluruh kewajibannya.

***
Apa dalilnya kalau begitu?

Sebenarnya di dalam rangkaian hadits Rasulullah ( يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ ) dan (مَا أَقَامَ لَكُمْ كِتَابَ اللَّهِ) itu sendiri sudah terkandung faedah penjelasan “syarat kesempurnaan” dan “syarat sah”.

Lho kok bisa? Iya, bisa.

Kalau kita rajin memahami hadits hadits Rasulullah secara komprehensif, tidak parsial, maka kita akan menemukan perkataan Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam yang bersabda,

الأئمة من قريش

“Keimaman (kepemimpinan pemerintahan) itu harus berasal dari orang Quraisy” [Hr. Ahmad]

Nah ini Rasulullah bilang ulil Amri itu harus orang Quroisy, sementara Rasulullah tetap mengharuskan kita taat dan patuh kepada budak cacat hitam pada hadits yang sudah kita jelaskan sebelumnya.

Emang ada ya orang Arab warnanya hitam? Bukannya orang Arab itu kulitnya putih putih? Padahal Rasulullah juga terang menjelaskan, bahwa yang dimaksud budak hitam itu maksudnya adalah orang Habasyah (Ethiopia). Bukan orang Quraisy.

Jadi kalau kita kumpulkan pemahaman hadits Rasulullah yang menyebutkan “budak hitam cacat”, dan hadits “Keimaman (kepemimpinan pemerintahan) itu harus berasal dari orang Quraisy”.

Maka terkumpullah penjelasan bahwa Rasulullah menjelaskan Quroisy itu dalam rangka “Syarat kesempurnaan”, dan bukan dalam rangka sebagai “Syarat sah” minimal seseorang baru dianggap sebagai ulil amri.

Sampai sini faham dulu ya bedanya antara syarat kesempurnaan dan syarat sah minimal itu kan?

Terlebih lagi Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam dalam hadits yang lain juga bersabda,

إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ فِي قُرَيْشٍ لَا يُعَادِيهِمْ أَحَدٌ إِلَّا كَبَّهُ اللَّهُ عَلَى وَجْهِهِ مَا أَقَامُوا الدِّينَ

“Sesungguhnya urusan pemimpin pemerintahan ini akan senantiasa berada di tangan (kabilah Bani) Quraisy.

Tidak ada yang menentang mereka (dalam masalah pemangku kepemimpinan), kecuali Allah akan menyeretnya di atas wajahnya, selama bani Quraisy itu menegakkan agama”. [Hr. Al Bukhari ]

Berkaca dari penjelasan mengenai perbedaan antara syarat kesempurnaan dan syarat sah minimal, maka pemahaman yang sama juga berlaku dalam penjelasan mengenai “Memimpin dengan berdasarkan kitabullah”.

Karena hadits “budak hitam Habasyah” dan “memimpin dengan berdasarkan kitabullah” itu merupakan satu rangkaian hadits yang tidak terpisahkan.

Sehingga seakan-akan Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam hendak memberitahu kepada kita, walaupun ulil amri nya itu memiliki kekurangan, tidak sempurna karena bukan dari Bani Quraisy. Hanya seorang budak hitam dari Habasyah. Tapi di balik kekurangan itu, dia memiliki kelebihan di sisi lain karena dia memimpin berdasarkan kitabullah.

Jadi ada plus minusnya.

Dan baik seseorang itu berasal dari Bani Quraisy, ataupun dia memimpin secara sempurna berdasarkan kitabullah. Maka dua hal ini adalah syarat kesempurnaan semata yang apple to apple. Bukan syarat sah minimal seseorang baru bisa dianggap ulil amri.

***
Sekarang apa dalil, bahwa perkataan Rasulullah ( يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ ) dan (مَا أَقَامَ لَكُمْ كِتَابَ اللَّهِ) “memimpin dengan berdasarkan kitabullah” itu hanyalah merupakan syarat kesempurnaan, dan bukan syarat sah mutlaq untuk minimal seseorang bisa disebut sebagai ulil amri?

Hal ini karena Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam di dalam hadits yang lain berkata,

” يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ “. قَالَ : قُلْتُ : كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ ؟ قَالَ : ” تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ”

“Akan datang setelahku para imam (ulil Amri) yang dia memerintah dengan tidak berdasarkan petunjukku. Dan dia akan melakukan sunnah (tradisi menjalankan pemerintahan), yang bukan dari sunnahku.

Di tengah tengah (social circle) pemerintahan para pemimpin yang seperti itu, akan bangkit (muncul) orang-orang yang hatinya merupakan hati syaitan dengan tubuh manusia.”

Maka Hudzaifah bertanya,
“Apa yang harus aku lakukan wahai Rasulullah, jika aku menemui zaman dengan keadaan yang seperti itu?”

Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam pun menjawab,
“Tetap dengar dan taatilah kepada pemimpin ulil Amri. Walaupun itu sampai dipukul punggungmu, dan diambil hartamu. Tetap dengan dan taat.” [Hr. Muslim]

Perkataan Rasulullah ( لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي) “Memerintah dengan tidak berdasarkan petunjukku. Dan dia akan melakukan sunnah (tradisi menjalankan pemerintahan) yang bukan dari sunnahku.” pada hadits di atas itu, jelas ini menjelaskan bahwa pemerintahannya itu tidak berdasarkan kitabullah.

Karena petunjuk dan Sunnah Rasulullah dalam kepemimpinan ulil Amri untuk menjalankan pemerintahan, tentu berdasarkan kitabullah. Namun di sini Rasulullah justru malah mengabarkan bahwa para ulil Amri itu, tidak menjalankan roda pemerintahannya berdasarkan petunjuk dan Sunnah Rasulullah. Tidak berdasarkan kitabullah.

Lalu walau seperti itu, apakah kemudian status ulil amri nya “auto batal” dan kita tidak perlu mendengar dan taat kepadanya? Ibarat kata sampai mau demo, people power, bughot (memberontak) pun sah sah saja. Bebas. Kan bukan ulil Amri.

Ternyata Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam sendiri mengkonfirmasi bahwa itu tetap ulil amri yang sah. Dan kita tetap wajib dengar dan taat kepadanya dalam hal yang ma’ruf.

Sehingga terang bagi kita bahwa “memimpin berdasarkan kitabullah” itu sebenarnya hanyalah syarat kesempurnaan saja. Bukan syarat sah mutlaq, minimal seseorang bisa disebut sebagai ulil amri.

Pahit memang, tapi inilah Sunnah Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam. Dan di balik keadaan yang tidak enak dalam kacamata agama ini, sebenarnya ada hikmah besar yang harus kita fahami.

Yakni hikmah terjaganya nikmat keamanan dan tidak adanya huru hara pertumpahan darah yang besar, dengan adanya ulil amri yang dzolim, yang tidak memerintah berdasarkan kitabullah secara totalitas 100% itu.

Dan menjaga jiwa dengan adanya keamanan itu, inilah sebenarnya salah satu maqoshid syariat (tujuan syariat).

Sampai sini kiranya sudah jelas dulu kan?

***
Masih mau dilanjut penjelasannya? Masih betah kan? Baik, mari kita lanjutkan.

Di dalam hadits riwayat muslim tadi, yang kita ambil faedahnya bahwa ini menjelaskan perkara “memimpin berdasarkan kitabullah” itu sebenarnya hanyalah syarat kesempurnaan. Bukan syarat sah mutlaq, minimal seseorang bisa disebut sebagai ulil amri.

Sebagian ulama seperti imam Ad Daroquthni dan Syaikh Muqbil mendhoifkan ziyadah (tambahan perkataan), pada redaksi (وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ) “Walaupun itu sampai dipukul punggungmu, dan diambil hartamu. Tetap dengan dan taat”.

Di sini perlu kita garis bawahi bahwa yang dianggap “bermasalah” oleh Imam Ad Daroquthni dan Syaikh Muqbil itu, hanya pada ziyadah redaksi (وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ) itu saja. Adapun redaksi hadits yang lainnya sejak dari awal itu, baik Imam Ad Daroquthni dan Syaikh Muqbil menganggapnya shohih dan diterima.

Kenapa ini diterangkan lagi? Karena walaupun ziyadah pada redaksi (وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ) itu dianggap “ditutupi” dan tidak dipakai.

Tapi sisa keseluruhan hadits shohih Muslim itu tetap terang menjelaskan kepada kita, faedah bahwa “memimpin berdasarkan kitabullah” itu sebenarnya adalah syarat kesempurnaan. Bukan syarat sah mutlaq, minimal seseorang bisa disebut sebagai ulil amri.

Karena Rasulullah terang berkata ( تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ) “Tetap dengar dan taatilah kepada pemimpin ulil Amri”, dan redaksi ini tidak termasuk yang dipermasalahkan oleh Imam Ad Daroquthni dan Syaikh Muqbil.

Sampai sini jelas dulu kan?

Hal ini saya pertegas lagi, karena jika orang yang sudah biasa dengan mustholah hadits maka ini biasa saja. Namun jika ini dihadapkan oleh orang awam yang tidak begitu faham mustholah hadits, maka mudah bagi mereka untuk diframing dan dikesankan bahwa seakan-akan seluruh hadits shohih Muslim ini dhoif dan tidak bisa dipakai.

Tujuannya, agar pemahaman bahwa syarat sah seseorang itu baru bisa disebut sebagai ulil Amri itu adalah yang harus memimpin berdasarkan kitabullah. Berhasil dipaksakan di dalam alam bawah sadar orang yang tidak begitu faham masalah hadits ini.

Akibatnya, fase awal mereka akan tidak mengakui pemerintahan yang ada itu sebagai ulil amri. Fase selanjutnya, bisa digiring untuk melakukan sikap oposisi terhadap pemerintah. Fase selanjutnya demo. Selanjutnya people power. Konspirasi. Bughot (memberontak). Menumpahkan darah. Dan seterusnya.

Ini point penting yang harus saya tekankan dulu, agar gampang difahami.

Ini lebih mudah dibandingkan menjelaskan perbedaan perdapat antara Imam Muslim dan Syaikh Albani yang menshohihkan ziyadah (وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ), dibandingkan dengan Imam Ad Daroquthni dan Syaikh Muqbil yang menganggap ziyadah itu dhoif.

Dan yang benar dan rojih, ziyadah itu sebenarnya shohih karena adanya hadits penguat yang lain dengan redaksi yang semisal.

***
Sekarang kita coba lihat lagi hadits masalah budak hitam Habasyah yang memimpin dengan berdasarkan kitabullah itu, dari sisi yang lain.

Secara i’rob bahasa Arab, perkataan Rasulullah ( يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ ) dan (مَا أَقَامَ لَكُمْ كِتَابَ اللَّهِ) itu sebenarnya memiliki posisi sebagai “sifat” atau “haal” (keadaan) dari sang budak hitam habasyah itu.

Sifat atau haal itu memang bisa berfungsi sebagai muqoyyidah (membatasi) atau hanya sebagai kasyifah (menyatakan untuk menjelaskan keadaan suatu hal dengan tanpa bermaksud untuk membatasi).

Penjelasan mengenai perbedaan antara sifat muqoyyidah dan sifat kasyifah yang lazim digunakan dalam dalil dalil ini, bisa dilihat pada penjelasan Syaikh Al Utsaimin dan Syaikh Salim Ath Thowil pada dua rekaman video di bawah ini.

Syaikh Al Utsaimin, lihat :

Syaikh Salim Ath Thowil, lihat :

Untuk gampangnya bagi sebagian yang kurang memahami bahasa Arab, akan saya berikan contoh yang sebenarnya juga ada di video itu.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ

“Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian, karena takut miskin” [QS Al Isra : 31]

Disitu dijelaskan sifat atau hal karena takut miskin. Ayat ini jika difahami secara shifat muqoyyidah, yang membatasi. Maka ini berarti kita hanya tidak boleh membunuh anak anak kita karena takut miskin saja.

Adapun alasannya jika bukan karena miskin, misal karena anaknya merusakkan mobil sport kita, maka apakah ini berarti kita boleh membunuh anak kita karena saking sebalnya?

Nah tentu ini adalah pemahaman yang tidak benar. Maka dari itu siyaq (konteks) kalimat ini dalam bahasa Arab itu sebenarnya hanya dalam rangka kasyifah, untuk menerangkan saja. Bukan untuk qoyyidah, untuk membatasi.

Sekarang mari kita kembali lagi kepada hadits masalah budak hitam Habasyah, yang memimpin dengan berdasarkan kitabullah itu.

Setelah kita coba bandingkan dengan berbagai macam hadits yang lain, yang telah kita jelaskan sebelumnya tadi. Maka perkataan Rasulullah ( يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ ) dan (مَا أَقَامَ لَكُمْ كِتَابَ اللَّهِ) itu sebenarnya memiliki fungsi sebagai muqoyyidah (membatasi) ataukah hanya sebagai kasyifah (menjelaskan dengan tanpa maksud membatasi) saja?

Yang benar adalah kasyifah, dan ini jelas. Sehingga pemahaman sebagian orang yang membatasi bahwa yang dianggap memiliki status ulil Amri itu hanyalah yang memerintah dengan berdasarkan kitabullah itu, adalah pemahaman yang salah.

***
Sekarang setelah terang bagi kita bahwa hadits budak hitam Habasyah yang memimpin dengan berdasarkan kitabullah, itu hanyalah syarat kesempurnaan saja. Bukan syarat sah mutlaq, minimal seseorang baru bisa dianggap sebagai ulil Amri.

Maka sebenarnya syarat sah minimal, seseorang itu bisa dianggap sebagai ulil amri itu yang bagaimana sih?

Syarat sah minimal seseorang itu bisa dianggap ulil Amri itu ada 3 :

1. Dia memiliki kekuatan dan kekuasaan de facto, yang diperoleh dengan cara apapun. Baik itu dengan cara yang sesuai syariat ataupun dengan cara yang menyimpang.

2. Secara dhohir dia adalah seorang muslim. Bukan kafir.

3. Dia tampak secara dhohir melakukan sholat.

Sekarang apa dalilnya?

Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ، فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ، وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ سَلِمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا نُقَاتِلُهُمْ، قَالَ: لَا مَا صَلَّوْا، أَيْ مَنْ كَرِهَ بِقَلْبِهِ وَأَنْكَرَ بِقَلْبِهِ

“Sesungguhnya akan diangkat bagi kalian para umaro (ulil Amri), kalian mengenali (kemungkaran) mereka dan kalian mengingkarinya.

Maka barangsiapa yang membencinya, maka dia sudah berlepas diri. Dan barangsiapa yang mengingkarinya, maka dia telah selamat. Akan tetapi ini tidak berlaku bagi orang yang meridhoi dan mengikuti (kemungkaran) para umaro itu.”

Para sahabat bertanya:
“Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kita perangi saja para umaro ulil amri itu? (memberontak)”

Rasulullah pun menjawab :
“Tidak boleh, selama mereka masih sholat. Adapun yang dibolehkan bagi kalian adalah membenci dan mengingkarinya dengan hati” [Hr. Muslim]

Adapun di dalam riwayat lain dalam shohih Bukhari, Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam bersabda mengenai pemerintahan yang seperti itu dengan berkata :

إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

“Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata pada pemimpin itu, yang mana kalian memiliki bukti yang nyata di sisi Allah mengenai kekafiran pemimpin itu” [Hr. Al Bukhari]

Lho sekarang kenapa kok dijadikan acuan itu adalah sholat, bukan masalah hukum-hukum Islam?

Ini karena ikatan pertama yang lepas dari Islam itu adalah masalah hukum, dan yang terakhir adalah sholat. Jika seorang pemimpin masih terlihat sholat, maka dia masih bergantung kepada tali ikatan Islam yang terakhir. Maka tetaplah dia adalah seorang ulil Amri karena dia adalah seorang muslim.

Ini sebagaimana keterangan yang ada di dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan lainnya, yang mana Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam bersabda,

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

“Sungguh simpul ikatan Islam akan terurai satu demi satu. Setiap kali satu simpul ikatan terurai, maka orang orang pun akan bergantung pada simpul ikatan selanjutnya.

Simpul ikatan yang pertama kali akan terurai adalah masalah hukum, sedangkan simpul ikatan yang terakhir akan terurai itu adalah sholat.”

[Hr. Ahmad dan selainnya dari Abu Umamah Al Bahili, Hasan, dihasankan oleh Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Shohih Dalailun Nubuwwah dan Shohihul Musnad]

***
Setelah selesai memahami seluruh penjelasan ini, semoga kita bisa memahami kesalahan penyimpangan, syubhat, dan bahayanya gerakan orang yang menghasung untuk tidak mengakui pemerintah sebagai ulil Amri.

Lha wong seluruh rukun Islam itu dibolehkan untuk dilaksanakan secara bebas, dan bahkan disupport juga sama pemerintah.

Jangan karena nila setitik rusak susu sebelanga. Jangan karena bermain api sejentik terbakar seluruh keamanan warga.

Ada yang sudah dibangun, mari kita perbaiki. Jangan malah dihancurkan dan dibangun lagi dari awal.

Betul?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *