Semoga Bisa Kita Hindari

KUMPULAN HADITS HADITS LEMAH DAN PALSU SEPUTAR RAMADHAN

 

Oleh : Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

 

hadits kelima :

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

 

“Dari Ibnu Abbâs رضي الله عنه, beliau رضي الله عنه mengatakan, “Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم, apabila hendak berbuka, beliau صلي الله عليه وسلم mengucapkan :

 

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

 

“Wahai Allâh! UntukMu kami berpuasa dan dengan rizki dari Mu kami berbuka. Ya Allâh ! Terimalah amalan kami ! Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Diriwayatkan oleh Daru Quthni رحمه الله dalam kitab Sunan beliau رحمه الله, Ibnu Sunni dalam kitab ‘Amalul Yaumi wal Lailah, no. 473 dan Thabrani t dalam kitab al-Mu’jamul Kabîr)

 

Keterangan :

 

Sanad hadits ini sangat lemah (dha’îfun jiddan), karena :

 

Pertama: Ada seorang rawi yang bernama Abdul Mâlik bin Hârun bin ‘Antarah. Orang ini adalah sseorang rawi yang sangat lemah.

 

Imam Ahmad رحمه الله mengatakan, “Abdul Mâlik itu dha’if.”

 

Imam Yahya رحمه الله, “Dia seorang pendusta (kadzdzâb).”

Sementara Ibnu Hibbân رحمه الله mengatakan, “Dia seorang pemalsu hadits.”

 

Imam Sa’di mengatakan, “Dajjâl (pendusta).”

 

Imam Dzahabi رحمه الله, ‘Dia tertuduh sebagai pemalsu hadits.”

 

Ibnu Hatim mengatakan, “Matrûk (orang yang riwayatnya ditinggalkan oleh para Ulama).”

 

Kedua: Dalam sanad hadits ini terdapat juga orang tua dari Abdul Mâlik yaitu Hârun bin ‘Antarah. Dia ini seorang rawi yang diperselisihkan oleh para Ulama ahli hadits.

 

Imam Daru Quthni رحمه الله menilainya lemah, sedangkan Ibni Hibbân رحمه الله telang mengatakan, “Mungkarul hadîts (orang yang haditsnya diingkari), sama sekali tidak boleh berhujjah dengannya.”

 

Hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Ibnul Qayyim رحمه الله, Ibnu Hajar رحمه الله, al Haitsami رحمه الله dan Syaikh al-Albâni رحمه الله dan lain-lain.

 

Silahkan para pembaca melihat kitab-kitab ; Mizânul I’tidal (2/666), Majma’uz Zawâ’id (3/156 oleh Imam Haitsami رحمه الله), Zâdul Ma’âd dalam kitab Shiyâm oleh Imam Ibnul Qayyim رحمه الله dan Irwâ’ul Ghalîl (4/36-39 oleh Syaikh al-Albâni رحمه الله)

 

Hadits dhaif lainnya tentang do’a berbuka yaitu :

 

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صلي الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

 

“Dari Anas رضي الله عنه, beliau رضي الله عنه mengatakan, “Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم, apabila berbuka, beliau صلي الله عليه وسلم mengucapkan :

 

بسم الله اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

 

“Dengan nama Allâh, Ya Allâh karenaMu aku berpuasa dan dengan rizki dari Mu aku berbuka”.

 

Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani رحمه الله dalam kitab al-Mu’jamus Shagîr, hlm. 189 dan al-Mu’jam Ausath.

 

Sanad hadits ini lemah (dha’îf), karena:

 

Pertama: Dalam sanad hadits ini terdapat Ismail bin Amar al Bajali. Dia adalah seorang rawi yang lemah.

 

Imam Dzahabi رحمه الله mengatakan dalam kitab adh-Dhu’âfa, “Bukan hanya satu orang saja yang melememahkannya.”

 

Imam Ibnu ‘Adi رحمه الله mengatakan, “Orang ini sering membawakan hadits-hadits yang tidak boleh diikuti.”

 

Imam Ibnu Hâtim رحمه الله mengatakan, “Orang ini lemah.”

 

Kedua: Dalam sanadnya terdapat Dâwud bin az-Zibriqân. Syaikh al-Albâni رحمه الله mengatakan, “Orang ini lebih jelek daripada Ismail bin Amr al bajali.”

 

Sementara itu, Imam Abu Dâwud رحمه الله, Abu Zur’ah رحمه الله dan Ibnu Hajar رحمه الله memasukkan orang ini ke golongan matrûk (orang yang riwayatnya ditinggalkan oleh para Ulama ahli hadits).

 

Imam Ibnu ‘Adi mengatakan, “Biasanya apa yang diriwayatkan oleh orang ini tidak boleh diikuti.” (lihat, Mizânul I’tidâl, 2/7)

 

Hadits Thabrani رحمه الله ini pernah dibawakan oleh Ustadz Abdul Qadir Hassan dalam risalah puasa, namun beliau tidak mengomentari derajatnya.

 

Masih tentang do’a berbuka, ada hadits dha’if lainnya yang senada yaitu:

 

عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ (اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ)

 

“Dari Mu’adz bin Zuhrah, telah sampai kepadanya bahwa Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم apabila hendak berbuka, beliau صلي الله عليه وسلم mengucapkan :

 

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

 

“Ya Allâh karenaMu aku berpuasa dan dengan rizki dari Mu aku berbuka”.

 

Hadits ini dha’if (lemah). Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dâwud, no. 2358, al-Baihaqi, 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Sunni. Lafazh hadits ini sama dengan hadits sebelumnya, hanya beda dalam kalimat awalnya. Hadits ini lemah karena ada dua illah (penyebab) :

 

Pertama: Mursal, Karena Mu’adz bin Zuhrah, seorang tabi’in bukan shahabat Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم.

 

Kedua: Juga karena Mu’adz bin Zuhrah ini seorang rawi yang majhûl, tidak ada yang meriwayatkan hadits darinya selain Hushain bin Abdurrahman. Sementara Ibnu Abi Hâtim رحمه الله dalam kitab beliau رحمه الله Jarh Wa Ta’dil tidak menerangkan tentang celaan maupun pujian untuknya.

 

Sebatas yang saya ketahui, tidak ada satu riwayatpun yang sah tentang do’a berbuka puasa kecuali riwayat dibawah ini:

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

 

“Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, adalah Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم apabila berbuka puasa, beliau صلي الله عليه وسلم mengucapkan :

 

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

 

“Dahaga telah lenyap, urat-urat telah basah dan pahala atau ganjaran tetap ada insya Allâh”

 

Hadits ini Hasan riwayat Abu Dâwud, no. 2357; Nasâ’i, 1/66; Daru Quthni, ia mengatakan, “Sanad hadits ini hasan.”; al Hâkim, 1/422 dan Baihaqi, 4/239. Syaikh al-Albâni رحمه الله sepakat dengan penilai Daru Quthni terhadap hadits ini.

 

Sebatas yang saya ketahui, semua rawi (orang-orang yang meriwayatkan) hadits ini adalah tsiqah (terpercaya) kecuali Husain bin Wâqid. Dia seorang rawi yang tsiqah namun memiliki sedikit kelemahan,2 sehingga tepatlah kalau sanad hadits ini dinilai hasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *