Mutiara Hikmah Ulama Salaf

📜 MUTIARA HIKMAH ULAMA SALAF

◆ Standar Yang Benar

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia suka berlaku zalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan tetapi sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan larangan-Nya.” [Lihat al-Fawa’id, hal. 89]

◆ Sesuatu Yang Paling Bermanfaat

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Perkara paling bermanfaat secara mutlak adalah ketaatan manusia kepada Rabbnya secara lahir maupun batin. Adapun perkara paling berbahaya baginya secara mutlak adalah kemaksiatan kepada-Nya secara lahir ataupun batin.” [Lihat al-Fawa’id, hal. 89]

◆ Akibat Pelit Ilmu

Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang pelit dengan ilmunya maka dia akan mendapatkan tiga macam bentuk musibah: dia meninggal kemudian hilanglah ilmunya, atau dia lupa, atau dia mengekor kepada penguasa.” [lihat ar-Rauh wa ar-Raihan, hal. 27]

◆ Hakikat Tawadhu

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, Sebagian ulama salaf berkata: “Tawadhu/sifat rendah hati itu adalah engkau menerima kebenaran dari siapa pun yang membawanya, meskipun dia adalah anak kecil. Barangsiapa yang menerima kebenaran dari siapa pun yang membawanya entah itu anak kecil atau orang tua, entah itu orang yang dia cintai atau tidak dia cintai, maka dia adalah orang yang tawadhu. Dan barangsiapa yang enggan menerima kebenaran karena merasa dirinya lebih besar daripada pembawanya, maka dia adalah orang yang menyombongkan diri.” [Lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 164]

◆ Cinta, Takut, dan Harap

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Ibadah yang diperintahkan itu harus mengandung unsur perendahan diri dan kecintaan. Ibadah ini mengandung tiga pilar: cinta, harap, dan takut. Ketiga unsur ini harus berpadu. Barangsiapa yang hanya bergantung kepada salah satu unsur saja, maka dia belum dianggap beribadah kepada Allah dengan sebenarnya. Beribadah kepada Allah dengan modal cinta saja adalah metode kaum Sufi. Beribadah kepada-Nya dengan modal rasa harap semata adalah metode kaum Murji’ah. Adapun beribadah kepada-Nya dengan modal rasa takut belaka adalah jalannya kaum Khawarij.” [Lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 35]

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📑 Artikel @PermataSunnah

🗞 Disalin dari https://terjemahkitabsalaf.wordpress.com

✒ Editor : Admin Asy-Syamil.com

📡 Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.

•═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
📮CHANNEL MULIA DENGAN SUNNAH
🌐 https://t.me/MuliaDenganSunnah
🔄 https://t.me/RisalahSunnah
👥 https://bit.ly/JoinGrupKami
🗳 bit.ly/Asy-SyamilcomDonasi
💠️ FB : https://goo.gl/tJdKZY
🛰 App : bit.ly/AsySyamilApp
📱 Admin : 081381173870

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *