Hutang Puasa Ramadhan

๐Ÿ’ŸHUTANG PUASA RAMADHAN ๐Ÿ’Ÿ
***************************************
Hutang Puasa Ramadhan Beberapa Tahun Belum Diqadha

#Bismillah
Apa hukum untuk orang yang memiliki hutang ramadhan beberapa tahun, dan belum diqadha hingga sekarang..?
Mohon penjelasannya.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu โ€˜ala rasulillah, amma baโ€™du,
Allah membolehkan, bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit yang ada harapan sembuh atau safar atau sebab lainnya, untuk tidak berpuasa, dan diganti dengan qadha di luar ramadhan.

Allah berfirman,

ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู…ูŽุฑููŠุถู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽููŽุฑู ููŽุนูุฏู‘ูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูุฎูŽุฑูŽ

Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)

.
Kemudian, para ulama mewajibkan, bagi orang yang memiliki hutang puasa ramadhan, sementara dia masih mampu melaksanakan puasa, agar melunasinya sebelum datang ramadhan berikutnya.

Berdasarkan keterangan Aโ€™isyah radhiyallahu โ€˜anha,

ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽูƒููˆู†ู ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽูˆู’ู…ู ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽุŒ ููŽู…ูŽุง ุฃูŽุณู’ุชูŽุทููŠุนู ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽู‚ู’ุถููŠูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ูููŠ ุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽ

Dulu saya pernah memiliki utang puasa ramadhan. Namun saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan syaโ€™ban. (HR. Bukhari 1950 & Muslim 1146)

Dalam riwayat muslim terdapat tambahan,

ุงู„ุดู‘ูุบู’ู„ู ุจูุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ

โ€˜Karena beliau sibuk melayani Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.โ€™
Aโ€™isyah, istri tercinta Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam selalu siap sedia untuk melayani suaminya, kapanpun suami datang. Sehingga Aโ€™isyah tidak ingin hajat suaminya tertunda gara-gara beliau sedang qadha puasa ramadhan. Hingga beliau akhirkan qadhanya, sampai bulan syaโ€™ban, dan itu kesempatan terakhir untuk qadha.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

ูˆูŽูŠุคู’ุฎูŽุฐ ู…ูู†ู’ ุญูุฑู’ุตู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐู„ูƒ ููŠ ุดูŽุนู’ุจูŽุงู†: ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู„ุง ูŠุฌููˆุฒ ุชูŽุฃู’ุฎููŠุฑ ุงู„ู’ู‚ูŽุถูŽุงุก ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠุฏู’ุฎูู„ูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู† ุขุฎุฑ

Disimpulkan dari semangatnya Aโ€™isyah untuk mengqadha puasa di bulan syaโ€™ban, menunjukkan bahwa tidak boleh mengakhirkan qadha puasa ramadhan, hingga masuk ramadhan berikutnya. (Fathul Bari, 4/191).

Bagaimana jika belum diqadha hingga datang ramadhan berikutnya?

Sebagian ulama memberikan rincian berikut,

Pertama, menunda qadha karena udzur, misalnya kelupaan, sakit, hamil, atau udzur lainnya. Dalam kondisi ini, dia hanya berkewajiban qadha tanpa harus membayar kaffarah. Karena dia menunda di luar kemampuannya.
Imam Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang sakit selama dua tahun. Sehingga utang ramadhan sebelumnya tidak bisa diqadha hingga masuk ramadhan berikutnya.
Jawaban yang beliau sampaikan,

ู„ูŠุณ ุนู„ูŠู‡ุง ุฅุทุนุงู… ุฅุฐุง ูƒุงู† ุชุฃุฎูŠุฑู‡ุง ู„ู„ู‚ุถุงุก ุจุณุจุจ ุงู„ู…ุฑุถ ุญุชู‰ ุฌุงุก ุฑู…ุถุงู† ุขุฎุฑ ุŒ ุฃู…ุง ุฅู† ูƒุงู†ุช ุฃุฎุฑุช ุฐู„ูƒ ุนู† ุชุณุงู‡ู„ ุŒ ูุนู„ูŠู‡ุง ู…ุน ุงู„ู‚ุถุงุก ุฅุทุนุงู… ู…ุณูƒูŠู† ุนู† ูƒู„ ูŠูˆู…

Dia tidak wajib membayar kaffarah, jika dia mengakhirkan qadha disebabkan sakitnyam hingga datang ramadhan berikutnya. Namun jika dia mengakhirkan qadha karena menganggap remeh, maka dia wajib qadha dan bayar kaffarah dengan memberi makan orang miskin sejumlah hari utang puasanya.
Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/572/

Kedua, sengaja menunda qadha hingga masuk ramadhan berikutnya, tanpa udzur atau karena meremehkan. Ada 3 hukum untuk kasus ini:

Hukum qadha tidak hilang. Artinya tetap wajib qadha, sekalipun sudah melewati ramadhan berikutnya. Ulama sepakat akan hal ini.

Kewajiban bertaubat. Karena orang yang secara sengaja menunda qadha tanpa udzur hingga masuk ramadhan berikutnya, termasuk bentuk menunda kewajiban, dan itu terlarang. Sehingga dia melakukan pelanggaran. Karena itu, dia harus bertaubat.

Apakah dia harus membayar kaffarah atas keterlambatan ini?

Bagian ini yang diperselisihkan ulama.

Pendapat pertama, dia wajib membayar kaffarah, ini adalah pendapat mayoritas ulama.
As-Syaukani menjelaskan,

ูˆู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: โ€œูˆูŠุทุนู… ูƒู„ ูŠูˆู… ู…ุณูƒูŠู†ู‹ุงโ€: ุงุณุชุฏู„ ุจู‡ ูˆุจู…ุง ูˆุฑุฏ ููŠ ู…ุนู†ุงู‡ ู…ูŽู† ู‚ุงู„: ุจุฃู†ู‡ุง ุชู„ุฒู… ุงู„ูุฏูŠุฉ ู…ู† ู„ู… ูŠุตู… ู…ุง ูุงุช ุนู„ูŠู‡ ููŠ ุฑู…ุถุงู† ุญุชู‰ ุญุงู„ ุนู„ูŠู‡ ุฑู…ุถุงู† ุขุฎุฑุŒ ูˆู‡ู… ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑุŒ ูˆุฑููˆูŠ ุนู† ุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉุ› ู…ู†ู‡ู…: ุงุจู† ุนู…ุฑุŒ ูˆุงุจู† ุนุจุงุณุŒ ูˆุฃุจูˆ ู‡ุฑูŠุฑุฉ. ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุทุญุงูˆูŠ ุนู† ูŠุญูŠู‰ ุจู† ุฃูƒุซู… ู‚ุงู„: ูˆุฌุฏุชู‡ ุนู† ุณุชุฉ ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉุŒ ู„ุง ุฃุนู„ู… ู„ู‡ู… ู…ุฎุงู„ูู‹ุง

Sabda Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, โ€œDia harus membayar fidyah dengan memberi makan orang miskinโ€, hadis ini dan hadis semisalnya, dijadikan dalil ulama yang berpendapat bahwa wajib membayar fidyah bagi orang yang belum mengqadha ramadhan, hingga masuk ramadhan berikutnya. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, dan pendapat yang diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah.
At-Thahawi menyebutkan riwayat dari Yahya bin Akhtsam, yang mengatakan,

ูˆุฌุฏุชู‡ ุนู† ุณุชุฉ ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉุŒ ู„ุง ุฃุนู„ู… ู„ู‡ู… ู…ุฎุงู„ูู‹ุง

Aku jumpai pendapat ini dari 6 sahabat, dan aku tidak mengetahui adanya sahabat lain yang mengingkarinya. (Nailul Authar, 4/278)

Pendapat kedua, dia hanya wajib qadha dan tidak wajib kaffarah. Ini pendapat an-Nakhai, Abu Hanifah, dan para ulama hanafiyah. Dalilnya adalah firman Allah,

ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู…ูŽุฑููŠุถู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽููŽุฑู ููŽุนูุฏู‘ูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูุฎูŽุฑูŽ

Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-aqarah: 184)
Dalam ayat ini, Allah tidak menyebutkan fidyah sama sekali, dan hanya menyebutkan qadha.
Imam al-Albani pernah ditanya tentang kewajiban kaffarah bagi orang yang menunda qadha hingga datang ramadhan berikutnya. Jawaban beliau,

ู‡ู†ุงูƒ ู‚ูˆู„ุŒ ูˆู„ูƒู† ู„ูŠุณ ู‡ู†ุงูƒ ุญุฏูŠุซ ู…ุฑููˆุน

Ada yang berpendapat demikian, namun tidak ada hadis marfuโ€™ (sabda Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam) di sana. (al-Mausuโ€™ah al-Fiqhiyah al-Muyassarah, 3/327).

Demikian,

Allahu aโ€™lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
sumber: https://konsultasisyariah.com/22675-hukum-hutang-puasa-ramadhan-beberapa-tahun-belum-diqadha.html

#CoppazRatnaDewiPutri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *