Siapakah Ahlussunnah??

*Ringkasan Fawaid Kajian Ust. Abdurrahman Thayyib, Lc. (Masjid Jaami’ Ponpes Abu Hurairah Mataram, Ahad, 18 Jumadal Akhirah 1440 | 22 Feb. 2019)*
—————–

๐Ÿ’ Apakah kita termasuk ahlussunnah..?? Banyak yang mengaku ahlussunnah, namun ternyata dia jauh dari ahlussunah yang sejati.

๐Ÿ’ Masalah aqidah adalah garis pembeda antara ahlussunah dan ahlul bida’. Akhlak semata, tanpa peduli dengan urusan aqidah, bukanlah barometer seseorang itu ahlussunnah atau bukan.

๐Ÿ’ Ciri khas yang paling menonjol dari kelompok yang selamat adalah; berpegang pada aqidah dan manhaj ahlussunnah wal-jamaa’ah. Kekurangan dalam hal ibadah dan akhlak tidak serta merta mengeluarkan seseorang dari al-Firqoh an-Naajiyah (golongan yang selamat) selama aqidah dan manhajnya masih lurus. Sebaliknya kurang dalam masalah aqidah/tauhid, bisa mengeluarkan seseorang dari al-Firqoh an-Naajiyah. Adapun masalah akhlak, muamalah, maka itu bukan barometer. Sekalipun “akhlak” seseorang itu *kelihatannya* baik, namun jika aqidah dan manhajnya menyimpang, maka dia bukanlah ahlussunnah, justru dia menyimpang.

๐Ÿ’ Jangan sedikit-sedikit akhlak, akhlak, tapi aqidah dan manhaj dikesampingkan. Justru barometer seseorang itu ahlussunnah atau bukan adalah; aqidah dan manhajnya. Sekalipun masalah akhlak adalah masalah yang penting juga. Namun skala prioritas kita janganlah terbalik. Aqidah dan manhaj tetap yang utama, di atasnya kemudian dibangun akhlak yang mulia.

๐Ÿ’ Sahl bin ‘Abdillah at-Tustari (hidup di abad ke-3 H). Beliau ditanya; kapan seseorang bisa tahu dirinya termasuk ahlussunnah atau bukan?

Beliau menjawab; jika dia memiliki 9 karakteristik:

โœ๏ธPertama, dia tidak meninggalkan jamaa’ah kaum muslimin dan pemimpinnya. Tidak boleh membatalkan bai’at dari pemimpin muslim yang sah.

Keluar (berontak) pada pemimpin itu ada dua; keluar secara pemikiran (dia menganggap pemimpinnya yang muslim bukan lagi pemimpin yang sah), dan yang kedua adalah keluar memberontak atau mengkudeta dengan senjata.

Jenis yang pertama ini disebut oleh para ulama sebagai “al-Khawarij al-Qa’adiyyah” (Khawarij pasif, memberontak dengan pemikirannya yang sesat). Mereka ini berbahaya, karena berfatwa dan bisa menggerakkan masa sekalipun mereka hanya duduk tidak beraksi.

โœ๏ธKedua; seseorang termasuk ahlussunnah jika dia tidak mencela Sahabat Rasulullah ๏ทบ. Allah berfirman:

ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุฌูŽุงุกููˆุง ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏูู‡ูู…ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ูุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ูู†ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุณูŽุจูŽู‚ููˆู†ูŽุง ุจูุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ ูููŠ ู‚ูู„ููˆุจูู†ูŽุง ุบูู„ู‘ู‹ุง ู„ูู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุฑูŽุกููˆููŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ

_”Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, โ€œYa Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.โ€_ -Sura Al-Hashr, Ayah 10

โœ๏ธKetiga: seorang ahlussunnah tidak mengangkat senjata atau memberontak untuk melengserkan pemimpin muslim yang sah secara syar’i, sekalipun pemimpin tersebut zhalim.

Imam an-Nawawi menukil ijma’ haramnya melengserkan pemimpin muslim hanya gara-gara kefasiqannya.

‘Ubadah bin Shamit radhiallahu’anhu mengatakan:

ุฏูŽุนูŽุงู†ูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽููŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ููŽุจูŽุงูŠูŽุนู’ู†ูŽุงู‡ูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูููŠู…ูŽุง ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง: ุฃูŽู†ู’ ุจูŽุงูŠูŽุนูŽู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุณูŽู‘ู…ู’ุนู ูˆูŽุงู„ุทูŽู‘ุงุนูŽุฉู ูููŠ ู…ูŽู†ู’ุดูŽุทูู†ูŽุง ูˆูŽู…ูŽูƒู’ุฑูŽู‡ูู†ูŽุงุŒ ูˆูŽุนูุณู’ุฑูู†ูŽุง ูˆูŽูŠูุณู’ุฑูู†ูŽุงุŒ ูˆูŽุฃูŽุซูŽุฑูŽุฉู‹ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุงุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ู†ูู†ูŽุงุฒูุนูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุฑูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽู‡ู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฑูŽูˆู’ุง ูƒููู’ุฑู‹ุง ุจูŽูˆูŽุงุญู‹ุง ุนูู†ู’ุฏูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูููŠู‡ู ุจูุฑู’ู‡ูŽุงู†ูŒ

_Nabiย shallallaahu โ€˜alaihi wa sallamย pernah memanggil kami, lalu membaiat kami. Dan di antara isi baiatnya adalah agar kami bersumpah setia untuk mendengar dan taat ketika kami bersemangat (suka) ataupun ketika kami sedang tidak suka, ketika kami dalam keadaan mudah ataupun susah, ataupun ketika kami diperlakukan secara sewenang-wenang. Dan kami tidak merampas kepemimpinan dari orang yang berhak (pemimpin muslim yang sah). Beliauย shallallaahu โ€™alaihi wasallamย bersabda :ย โ€Kecuali jika kalian melihatย kekufuran yang nyata (dari pemimpin tersebut), yang kalian memiliki bukti di sisi Allahโ€_ย [Shahih al-Bukhari no. 7056, dan Muslim no. 1709].

โœ๏ธKeempat: seorang ahlussunnah tidak mendustakan takdir. Seseorang bahkan bisa keluar dari Islam jika dia mengingkari takdir Allah dengan beranggapan; Allah tidak mengetahui apa yang akan terjadi kecuali setelah ia terjadi. Ini berarti mengingkari ilmu Allah.

Termasuk penyimpangan dalam masalah iman kepada takdir adalah; menganggap perbuatan buruk seorang hamba tidaklah terjadi atas kehendak Allah, namun murni terjadi atas kehendak hamba tersebut.

Sementara ahlussunnah berkeyakinan bahwa; segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini tidaklah terjadi kecuali atas kehendak Allah, baik ataupun buruk. Manusia memiliki kehendak namun kehendak manusia berada di bawah kehendak Allah. Keburukan yang dilakukan manusia, juga terjadi atas kehendak Allah. Namun Allah hanya meng-hisab keburukan atau kemaksiatan manusia yang dikehendaki untuk dilakukannya, kemaksiatan yang tidak disengaja, tidak dihitung sebagai dosa oleh Allah. Takdir buruk yang tercipta dan terjadi, tidaklah murni buruk, tapi memiliki hikmah dan kebaikan di baliknya, boleh jadi akal bisa menalarnya, dan sering kali atau kebanyakannya tidak bisa.

Kehendak Allah ada dua macam;

Pertama, *Iraadah Kauniyyah*, yaitu kehendak Allah yang pasti terjadi namun tidak mesti Allah menyukainya. Contoh; Allah tidak menyukai manusia menjadi kafir, namun secara Kauniyyah adanya manusia yang kafir adalah suatu kepastian yang harus terjadi dengan segala hikmah di baliknya.

Kedua, *Iraadah Syar’iyyah*, yaitu keinginan Allah yang disukai-Nya namun tidak mesti terjadi. Contoh: Allah menyukai manusia beriman dan bertauhid semuanya, namun hal tersebut tidak terjadi.

Dengan membedakan kedua macam kehendak Allah tersebut, maka kita bisa mengatakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia, terjadi dengan kehendak Allah secara Kauniyyah, namun tidak dikehendaki oleh Allah secara Syar’iyyah. Karena jika kita mengatakan kemaksiatan adalah murni kehendak dan ciptaan manusia, maka konsekuensinya adalah; ada pencipta selain Allah, ada sesuatu yang terjadi di alam ini di luar kehendak Allah, dan ini *mustahil*.

โœ๏ธKelima: seorang ahlussunnah meyakini iman adalah ucapan dan amalan hati, serta ucapan dan amalan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang dengan kemaksiatan.

Ucapan; “saya seorang mukmin, InsyaAllah”, hukumnya boleh menurut ahlussunnah. Dalam artian; iman itu banyak cabangnya, dan kita belum menyempurnakan semua cabang iman tersebut, sehingga kita perlu mengucapkan “InsyaAllah”. Namun menurut kelompok sesat Murjiah, ungkapan tersebut haram. Sebab menurut mereka, iman itu satu kesatuan, jika tetap, maka tetap semuanya tanpa berkurang sedikitpun. Nah, mengatakan “InsyaAllah” dalam masalah iman, menurut mereka, adalah ungkapan keraguan. Sementara–menurut mereka–kita tidak boleh ragu bahwa para pendosa itupun tetap sempurna imannya seperti imannya para malaikat.

โœ๏ธKeenam: seorang ahlussunnah tidak mendebat dalam urusan agama baik ayat ataupun hadits. Ahlussunnah meninggalkan debat kusir dalam urusan agama. Ahlussunnah juga tidak duduk-duduk bermesraan dengan ahlul bida’. Orang yang suka debat kusir dalam masalah agama, rentan suka berubah-ubah alisan _mencla-mencle._

Imam Malik mengatakan;

ุงู„ุฏุงุก ุงู„ุนุถุงู„ ุงู„ุชู„ูˆู† ููŠ ุงู„ุฏูŠู†

_”Penyakit kronis; mencla mencle (suka berubah warna) dalam beragama”_

Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily menulis;
ู„ุง ุฎูŠุฑ ููŠ ุงู„ู…ุชู„ูˆู†ูŠู†
_”Tidak ada kebaikan pada diri orang-orang yang mencla-mencle”_

โœ๏ธKetujuh: seorang ahlussunnah tidak mengharamkan shalat jenazah bagi muslim yang wafat gara-gara dia adalah pelaku dosa besar. Sebab ahlussunnah tidak mengkafirkan pelaku dosa besar selama dia tidak menghalalkan dosa tersebut.

โœ๏ธKedelapan: seorang ahlussunnah memandang mashul-khuffain (mengusap dua sepatu, bagian atasnya, ketika berwudhu) adalah perkara yang disyariatkan. Imam Nawawi mengatakan; yang mengingkari hal ini adalah kelompok sesat Syi’ah dan Khawarij. Itulah sebabnya masalah ini dibahas dalam kitab-kitab aqidah sekalipun ini adalah masalah fiqih. Dikarenakan masalah ini merupakan salah satu pembeda ahlussunnah dengan ahlul bida’.

โœ๏ธKesembilan: seorang ahlussunnah memandang bahwa jihad, shalat Jum’at, shalat ‘idain, dan haji, tetap dilakukan bersama di belakang pemimpin kaum muslimin.*

Wallaahu a’lam.

__________
โœ๏ธ Abu Ziyan Johan Saputra Halim

*) Catatan ini berdasarkan apa yang dipahami oleh penulis dari pemaparan al-Ustadz al-Fadhil Abdurrahman Thayyib hafizhahullaah, dengan sedikit tambahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *