Al-wala’ dan al-bara’

Perayaan Natal dan Aqidah Al-Wala’ wal Al-Bara’ yang Dianggap Usang

Aqidah al-wala’ dan al-bara’ merupakan salah satu konsekuensi dari tauhid. Seseorang yang mentauhidkan Allah Ta’ala dan taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak boleh baginya mencintai dan loyal kepada orang-orang yang memusuhi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, meskipun mereka adalah saudaranya yang paling dekat.

Pengertian dan Kedudukan Aqidah Al-Wala’ dan Al-Bara’ dalam Islam
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa pada asalnya, kata al-wala’ berarti cinta dan dekat, sedangkan kata al-bara’ berarti benci dan jauh. [1] Sehingga yang dimaksud dengan al-wala’ adalah menolong, mencintai, memuliakan, dan menghormati, serta selalu merasa bersama dengan orang yang dicintainya baik secara lahir maupun batin. Adapun yang dimaksud dengan al-bara’ adalah menjauh, berlepas diri, membenci, dan memberikan permusuhan.

Di antara pokok aqidah Islam adalah wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan al-wala’ dan al-bara’ ini. Sehingga dia mencintai sesama muslim lainnya dan membenci musuh-musuhnya. Dia mencintai orang-orang yang bertauhid dan loyal kepada mereka, serta membenci dan memusuhi pelaku syirik. Allah Ta’ala telah mengharamkan orang-orang beriman untuk mencintai dan loyal kepada orang-orang kafir, meskipun mereka adalah kerabat dan saudaranya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آَبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali (kekasih) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. At-Taubah [9]: 23).

Al-wala’ dan al-bara’ merupakan konsekuensi dari rasa cinta kita kepada Allah Ta’ala. Orang yang mencintai Allah, maka dia dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah, yaitu dengan mencintai yang Allah cintai dan membenci apa yang Allah benci. Di antara yang dicintai Allah Ta’ala adalah ketaatan dan orang-orang yang bertakwa, sedangkan di antara yang Allah Ta’ala benci adalah kemaksiatan, kekafiran, kemusyrikan, serta syi’ar-syi’arnya. Allah Ta’ala berfirman,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

”Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga meraka” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22).

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia“ (QS. Al-Mumtahanah [60]: 1).

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala melarang untuk memberikan loyalitas kepada orang kafir secara umum.

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/6845-perayaan-natal-dan-aqidah-al-wala-wal-al-bara-yang-dianggap-usang-1.html

Silakan di-share…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *