Hawa Nafsu dan Kesyirikan

*📚 Di Antara Bentuk Kesyirikan :*
* Senantiasa Mengikuti Hawa Nafsu*

Syeikh Sholeh bin Fauzan Alu Fauzan hafizhahullah berkata,

“Hawa Nafsu merupakan bentuk lain dari sesembahan.
Kesyirikan itu bukan hanya terbatas pada penyembahan patung dan berhala saja,
Akan tetapi, ada bentuk lain dari kesyirikan,
Kesyirikan tersebut adalah hawa nafsu.

Seseorang bisa jadi memang tidak menyembah patung, pohon, batu-batuan ataupun kuburan. Namun ia mengikuti hawa nafsunya. Ketika Ia berlaku demikian, maka sesungguhnya ia adalah hamba dari hawa nafsunya.

Seseorang wajib berhati-hati dalam hal ini. Jangan sampai ia melakukan sesuatu semata-mata karena mengikuti hawa nafsunya” .

(Ta’liq Syarhus Sunnah Imam Al-Barbahari : 30)

Penjelasan dari Syeikh Fauzan Hafizhahullah di atas semakna dengan apa yang telah difirmankan oleh Allah berikut,

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? ( Surat Al-Furqon : 43)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan,
“Yakni dia adalah orang yang menganggap sesuatu itu baik berdasarkan hawa nafsunya, Agama dan Madzhabnya adalah yang sesuai dengan hawa nafsunya” .

Disebutkan dalam Tafsir Qurthubi bahwasanya Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu berkata,
“Hawa nafsu adalah sesembahan yang disembah selain Allah” . Kemudian beliau membaca ayat ini.

Disebutkan juga dalam Tafsir Al-Qurthubi, Hasan Al Bashri rahimahullah berkata,
“Tidaklah hawa nafsunya itu condong kepada sesuatu kecuali ia pasti mengikutinya” .

Mari cek diri kita masing-masing,

Apakah kita senantiasa mengikuti kemana hawa nafsu kita mengajak ? Ataukah kita berusaha melawannya ?

Terlebih lagi dalam beragama,

sudahkah kita beragama dengan betul-betul mengikuti tuntunan syariat ?

ataukah kita beragama sesuai hawa nafsu saja ?

kita pilih-pilih dalam melaksanakan syariat bagaikan memilih makanan di sebuah restoran prasmanan.

jika menurut hawa nafsu kita baik, enak, gampang dikerjakan, kita ikuti. Namun jika dirasa berat dan tidak disukai oleh hawa nafsu, kita enggan melakukannya.

Kalau hawa nafsu kita kepingin , ya dilakukan. Jika tidak, ditinggalkan.

Bukankah itu berarti kita telah menjadikan hawa nafsu sebagai penentu kita dalam beragama?

📝 Boris Tanesia

•┈┈•••✦✿✦•••┈┈•

*Repost by :*
*🌀TEGAR DI ATAS SUNNAH*
*Grup Sharing Kajian Islam*
Silahkan berbagi

*Daftar WhatsApp:*
Ikhwan : bit.ly/2xlVjHI
Akhwat : bit.ly/2xbTmhr

*Follow Channel Telegram*
bit.ly/2x7XEFR
untuk mendapatkan informasi seputar agama Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *