Apakah ‘Arsy itu Makhluk?

Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.

APAKAH ‘ARSY ITU MAKHLUK?

1. Santri bertanya: Ustadz, apakah arsy itu makhluk?
Ustadz Salafi menjawab: Ya, arsy itu makhluk yang diciptakan Allah.
2. Santri bertanya: Apa dalilnya ustadz?
Ustadz Salafi menjawab: Dalilnya firman Allah ta’ala:
ﭐﻟﻠَّﻪُ ﻟَﺎٓ ﺇِﻟَـٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﺭَﺏُّ ﭐﻟۡﻌَﺮۡﺵِ ﭐﻟۡﻌَﻈِﻴﻢِ
“Allah, tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia, Rabb yang mempunyai/menciptakan/mengatur ‘arsy yang besar.” (QS. An-Naml : 26)
ﺫُﻭ ﭐﻟۡﻌَﺮۡﺵِ ﭐﻟۡﻤَﺠِﻴﺪُ
“(Allah) yang mempunyai ‘arsy, lagi Maha mulia.” (QS. Al-Buruj : 15)
ﻭَﻫُﻮَ ﺭَﺏُّ ﭐﻟۡﻌَﺮۡﺵِ ﭐﻟۡﻌَﻈِﻴﻢِ
“Dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘arsy yang agung.” (QS. At-Taubah : 129)
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalaani rahimahullahu berkata: Ayat ini mengisyaratkan bahwa ‘arsy itu marbub (diciptakan/diatur/dimiliki) dan setiap yang diciptakan maka dia makhluk. [1]
3. Santri bertanya: Bisakah ustadz menyebutkan salah satu ucapan ulama salaf tentang arsy adalah makhluk yang diciptakan Allah, agar kami lebih mantap lagi dalam keyakinan ini ?
Ustadz Salafi menjawab: Imam Ibnu Abi Zamanin rahimahullahu berkata: Diantara ucapan ahlussunnah bahwa Allah ‘azza wa jalla menciptakan ‘arsy. [2]
4. Santri bertanya: Ustadz, apakah arti dari ‘arsy Allah itu?
Ustadz Salafi menjawab: Ibnu Katsiir rahimahullahu berkata: ‘Arsy Allah adalah sarir/dipan yang memiliki penyangga yang dipikul oleh para malaikat dan dia seperti kubah bagi alam semesta dan dia adalah atap bagi semua makhluk. [3]
5. Santri bertanya: Apa keistimewaan dari makhluk yang bernama ‘arsy ini ustadz?
Ustadz Salafi menjawab: ‘Arsy adalah makhluk Allah yang pertama, yang paling besar dan yang paling tinggi.
6. Santri bertanya: Bisakah ustadz menyampaikan dalilnya?
Ustadz salafi menjawab:
– Dalil tentang arsy adalah makhluk Allah yang pertama adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ﻛﺘﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻘﺎﺩﻳﺮ ﺍﻟﺨﻼﺋﻖ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺨﻠﻖ ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﻭﺍﻷﺭﺽ ﺑﺨﻤﺴﻴﻦ ﺃﻟﻒ ﺳﻨﺔ ﻭﻋﺮﺷﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺎﺀ
Allah mencatat semua takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Sedangkan ‘arsy-Nya (sudah ada sebelum itu semua-pent) di atas air. (HR. Muslim)
– Dalil tentang arsy makhluk Allah yang paling besar adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ﻣﺎ ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﻭﺍﻷﺭﺽ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ﺇﻻ ﻛﺤﻠﻘﺔ ﻣﻠﻘﺎﺓ ﺑﺄﺭﺽ ﻓﻼﺓ ﻭﻓﻀﻞ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ﻛﻔﻀﻞ ﺍﻟﻔﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺤﻠﻘﺔ
Tidaklah perbandingan antara (besarnya) langit dan bumi dengan kursi (tempat kedua telapak kaki Allah) [4] melainkan seperti lingkaran yang dilemparkan di tanah lapang. Dan besarnya arsy jika dibandingkan dengan kursi sebagaimana tanah lapang dengan lingkaran tersebut. (HSR. Abu Nu’aim, Baihaqi dan selainnya)
– Dalil tentang arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ﻓﺈﺫﺍ ﺳﺄﻟﺘﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺴﻠﻮﻩ ﺍﻟﻔﺮﺩﻭﺱ ﻓﺈﻧﻪ ﻭﺳﻂ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺃﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﻓﻮﻗﻪ ﻋﺮﺵ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ
Apabila kalian meminta kepada Allah maka mintalah surga firdaus karena dia adalah surga yang paling tengah dan yang paling tinggi dan di atasnya adalah ‘arsy Ar-Rahman (HR. Bukhari)
Imam Ibnu Abi Zamanin rahimahullahu berkata: Diantara ucapan ahlussunnah bahwa Allah ‘azza wa jalla menciptakan arsy dan mengistimewakannya dengan ketinggian di atas semua makhluk-Nya. [5]
7. Santri bertanya: Apa makna “istawa” dalam firman Allah:
ﭐﻟﺮَّﺣۡﻤَـٰﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﭐﻟۡﻌَﺮۡﺵِ ﭐﺳۡﺘَﻮَﻯٰ
Ustadz Salafi menjawab: Ulama salaf seperti Mujahid dan Abu Al-‘Aliyah dari ulama tabi’in mentafsirkan “istawa” dengan tinggi [6]. Jadi makna ayat tersebut : (yaitu) Allah yang Maha Pemurah tinggi di atas ‘Arsy. (QS. Thaha : 5)
8. Santri bertanya: Apakah boleh “istawa” ditafsirkan dengan “istaula”/ menguasai?
Ustadz Salafi menjawab: Tidak boleh, itu tafsir yang salah, karena menyelisihi tafsir para ulama salaf seperti yang telah disebutkan. Dan tafsir tersebut juga tidak dikenal oleh para pakar bahasa arab.
9. Santri berkata: Apakah tidak ada sama sekali referensi dalam ucapan orang-orang arab dulu yang fasih (yang asli) tentang penafsiran tersebut?
Ustadz Salafi menjawab: Ada kisah menarik antara Ibnu Al-A’rabi yang merupakan pakar bahasa arab dengan seorang tokoh penyesat umat dari kalangan Mu’tazilah (kelompok Liberal) yaitu Ibnu Abi Duaad. Ibnu Abi Duaad meminta bantuan kepada Ibnu Al-A’raabi untuk mencarikan referensi dalam bahasa arab tentang makna istawa itu istaula. Maka Ibnu Al-A’rabi menjawab: Demi Allah, itu tidak ada dan tidak mungkin aku mendapatinya. [7]
10. Santri bertanya: Ada orang yang mengatakan kalau Allah itu “istawa”/
tinggi di atas ‘arsy berarti Allah butuh kepada ‘Arsy. Apakah ini benar ustadz?
Ustadz Salafi menjawab: Imam Ath-Thahawi rahimahullahu berkata dalam kitab beliau Al-Aqidah Ath-Thahawiyah: Allah tidak butuh kepada ‘arsy dan apa yang dibawah ‘arsy.
11. Santri bertanya: Apa penjelasan lebih lanjut dari ucapan Imam Thahawi di atas, ustadz?
Ustadz Salafi menjawab: Imam Ibnu Abi Al-‘Izzi rahimahullahu ketika menjelaskan ucapan di atas berkata: Dalil tentang Allah tidak butuh kepada ‘arsy dan apa yang dibawahnya adalah firman Allah:
ﺇِﻥَّ ﭐﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻐَﻨِﻰٌّ ﻋَﻦِ ﭐﻟۡﻌَـٰﻠَﻤِﻴﻦَ
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Al-Ankabut : 6)
Imam Thahawi menyebutkan hal ini untuk menjelaskan bahwa Allah menciptakan ‘arsy dan Dia tinggi di atas ‘arsy bukan karena butuh kepada ‘arsy. Namun Allah memiliki hikmah yang mengharuskan penciptaan ‘arsy. Adapun sesuatu yang ada diatas maka itu tidak selalu yang dibawahnya meliputi yang diatas tersebut atau tidak selalu yang di atas butuh kepada yang di bawah. Lihatlah kepada langit yang di atas bumi, Dia tidak butuh kepada bumi ! [8]
12. Santri berkata: Apa nasehat ustadz kepada saya?
Ustadz Salafi menjawab: Prioritaskan untuk engkau lebih rajin dan tekun belajar tentang aqidah salaf dan manhaj salaf sebelum engkau menjadi ustadz. Jangan sampai engkau mengaku sebagai ustadz apalagi ustadz Salafi sebelum engkau paham tentang aqidah salaf dan manhaj salaf. Dan jangan engkau menimba ilmu dari ustadz yang jahil atau menyimpang dari aqidah salaf dan manhaj salaf. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua untuk beraqidah salaf dan bermanhaj salaf hingga akhir hayat kita nanti.
——————————
———
[1] Fathul Bari 13/405.
[2] Ushulussunnah hal. 88.
[3] Al-Bidayah wa An-Nihayah 1/12.
[4] Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika menafsirkan kursinya Allah dalam ayat kursi. Lihat tafsir Ibnu Katsir 1/404.
[5] Ushulussunnah hal. 88.
[6] Lihat kitab Al-‘Arsy 2/9 &15 oleh Imam Adz-Dzahabi dengan tahqiq Syaikh Muhammad Khalifah At-Tamimi.
[7] Kitab Al-‘Arsy 2/13-14.
[8] Syarah al-aqidah ath-thahawiyah hal. 258 oleh Imam Ath-Thahawi dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *